Kantor Kedua

Pengennya Kita sih....

Dulu sih, pengennya kalo punya anak, masuk sekolah di sekolah favorit, anak-anak berprestasi, pintar bergaul, jago organisasi, ganteng, cantik #ihik #yahimpiandulu.

Cuma, setelah punya anak, makin sadar deh. Kalo impian seperti itu harus dikubur dalam-dalam. Karena ternyata, ituuu keinginan emaknya yak, bukan keinginan anaknya. Jadi, yaaa anak kan pribadi yang beda dengan orangtua, jangan dipaksa harus seperti keinginan emaknya deh. Jadilah sekarang keinginan orangtuanya itu cuma pengen anaknya mandiri, menjadi orang baik (yaahhh seperti yang tertuang dalam Pancasila lah, wkwkwkw), dan beragama. Udah itu aja. Bukan karena sadar diri kalo emaknya ga kayak yang diimpiin yaaa ga mungkin anaknya jadi seperti impian juga yaa #sebagiansihiya :D

Jadilah kemarin aq cari sekolah buat anak-anak juga bukan yang sistem pendidikannya full, apalagi kalo masih PG n TK. Tapi, yang bener-bener menerapkan fun learning untuk sistem pendidikannya. 

Emang sistem pendidikannya full itu ga baik ya? Hmmm bukannya ga baik sih, cuma ga sesuai sama konsep pendidikan yang kita mau aja. Kan seperti yang dibilang diatas, kita pengennya anak kita itu mandiri, menjadi orang baik, dan beragama. Jadi, yaaa kita ga maksa nyari sekolah yang bisa baca di umur 4 tahun, bisa tulis di umur 5 tahun. Ga sih.

Apalagi aq punya keponakan langsung, yang sudah disekolahkan dengan sistem pendidikan full dari sejak umur 3 tahun, dan ketika dia kelas 4 - 5 SD, dia ngambek ga mau sekolah dan akhirnya ga naik kelas. Makanya, kalo ada penelitian ato artikel yang bilang kram otak untuk anak-anak jika memulai sekolah sejak dini, yaaaa aq agak percaya lahhh, wong buktinya ada. Tapiiii, ini jika anak dipaksa belajar yaaa. Kalo ternyata anaknya emang mau belajar sejak dini, yaaaa jangan dilarang dong, kasihan kemampuannya atuh. Mungkin menurut dia belajar baca dan tulis itu cara bermainnya, yaaaa kenapa ngga diturutin aja?

Jadilah kemarin pas survey-survey ketemu Tetum Bunaya, waah langsung cinta deh sama sekolah ini. Apalagi, Tetum Bunaya juga menerapkan sistem sekolah inklusi. Jadi, anak-anak bisa diajar untuk mengetahui bahwa ga semua anak itu sama, ada beberapa anak yang berbeda, dan kita harus belajar berempati terhadap mereka.

Ga takut apa anak kita jadi ikutan terpengaruh tingkah laku anak berkebutuhan khusus (ABK) itu. Insya Allah ga lah ya, ABK itu kan ada shadow teachernya sendiri, yang mengawasi dan mengajarkan langsung ABK tersebut. Dan biasanya dalam 1 kelas itu, diantara 15 orang murid yaa paling banyak sih 2. Jadi, anak-anak juga belajar bersosialisasi dan berempati dalam 1 kelas.

Kemudian, metode pengajarannya menggunakan montessori, jadi anak-anak diajarkan life skills sejak masih di PG. Yah, alhamdulillah deh anak-anak udah bisa makan sendiri, mandi sendiri, pakai baju sendiri, dan lainnya. Pokoknya hal-hal yang mereka bisa lakukan sendiri harus dilakukan sendiri. Walaupun kadang-kadang kumat kolokan dan malesnya, minta dipakein lah, , minta diambilinlah, dan segala macem. Cuma, emang harus tegas sih, kadang-kadang juga agak kejam wkwkwk. Tapi, jadinya Syakira yang masih 2yo, ikut-ikutan mandiri karena liat kakak-kakaknya. Udah bisa mandi sendiri, buka baju sendiri, makan sendiri, dan lainnya. 

Mereka ngelakuin life skills itu jangan ditanya berantakannya yaaaa. Jelasss berantakan banget. Tapi, semuanya ada prosesnya doong. Malah, kalo mereka pakai baju terbalik sih masih aq biarin kok, walaupun selalu aq bilang kalo bajunya terbalik, nah terserah mereka mau diperbaiki ato ga, yang penting hargai effort mereka memakai baju sendiri. 

Cuma, yang kurangnya sih agamanya euy. Yah kalo doa-doa gitu sih emang tiap saat. Truss kalo pagi-pagi sebelum masuk juga dikasih pilihan mau setor hapalan doa/surat ato mau main. Tapi tapi maunya kan porsinya lebih banyak euy. Ada sih sekolah yang porsi agamanya lebih banyak seperti di SAI (Sekolah Alam Indonesia) dan metode pendidikannya juga yang fun learning. Cumaaaa, masuknya disana antri bok. Dan, prioritas masuknya juga dari PG, jadi kalo yang SD itu baru daftar, pendaftarnya bejibun ehhh keterima untuk siswa barunya cuma 4 orang. Kannn bikin deg-degan banget. wkwkwkw

Emang ga selesai selesai yaah kalo ngomongin sekolah anak. 
Tapi yang menurut aq prioritas belum tentu menurut orangtua lain prioritas lho. Ato yang menurut orangtua lain prioritas belum tentu juga menurut aq prioritas. Jadi, ga bisa dipaksain juga sih keinginan kita sama dengan keinginan orangtua lain

3 comments:

aki soak said...

setuju banget soal keinginan orangtua itu bisa jadi tidak sama dengan keinginan anak.

anak saya yang pertama, dari kecil umur kurang satu tahun sudah saya masukin sekolah.

hasilnya sekarang sudah gede tapi jiwa mainnya lebih besar dari jiwa belajarnya.

belajar dari itu, adiknya kami sekolahkan ketika dia berkeinginan untuk sekolah.

dan kayaknya jadinya lebih tekun dibanding kakaknya.

nidya larasati said...

ayoo ke SAI depok, masuknya ga pake deg-degan kaya di ciganjur *ihh berasa marketing SAI depok* :D

mel@ said...

@akisoak : iya bener paak. ga bisa dipaksa-paksa siih anaknya mau masuk yang mana. kita tinggal ngefalisitasin aja mereka maunya apa.

@nindy : mauuunyaa. tapi kan jauh nin dari tempat eikeh. belon survey nih lebih jauh SAI meruyung ato SAI depok. Tapiii, anak eikeh kan tiga euy. Kasian 2 yang lainnya kebanyakan ditinggal gara-gara sekolah kakaknya jauuhh